Postingan

Menampilkan postingan dengan label tradisi sufi

Membaca Sastra, Membaca Diri: Mengenal Ilahi (bag-3)

Membaca sastra, membaca diri: mengenal Ilahi (bag-3) (penulisan kreatif dan pembacaan para sufi akan alam, manusia, dan Tuhan.) Vladimir I. Braginsky dalam Tasawuf dan Sastera Melayu mengatakan empat alam (mulk/nasut, malakut, jabarut, dan lahut) disamakan dengan empat tahap pengenalan mistik, yaitu "ilm al-yakin", yaitu pengetahuan diskursif yang diperoleh melalui bukti dan logis. Kemudian "ayn al-yakin", "haqq al-yakin", dan "kamal al-yakin". Karena makro- dan mikrokosmos adalah teks yang menampung ilmu, maka proses dan usaha pengenalan ilmu ini dipandang sebagai pembacaan kreatif. Ini sama seperti penulisan kreatif, yaitu penciptaan. Ya, dalam tradisi sufi terdapat proses pembacaan. Kita mengenalnya dengan zikir. Schimmel menjelaskan proses pembacaan dalam tradisi Sufi berangsur-angsur seperti "menghapuskan" teks. Dan ini terdapat dalam urutan zikir Sufi. Zikir Sufi yang pertama adalah: "laa ilaaha illa Allah" sebagai ...

Membaca Sastra, Membaca Diri: Mengenal Ilahi (bag-2)

Membaca Sastra, membaca diri: Mengenal Ilahi (bag-2) (Alquran dan Huruf-Hurufnya bagi para Sufi) Aziz Nasafi yang hidup di abad XIII sampai awal abad XIV,  di dalam kitabnya "Zubdat al-Haqaiq", menyatakan: "ketahuilah olehmu, bahwa setelah mencipta yang ada, Tuhan Yang Maha Tinggi menamakannya sebagai alam, karena alam ialah alamat wujud-Nya. Di dalam wujud alam ada Ilmu, Irodah, dan Kodrat-Nya yang berupa alamat dan berupa naskah (teks-teks), maka ia adalah alamat, dinamakanlah sebagai alam. Dan oleh karena iapun adalah naskah, dinamakanlah kitab. Kita Manusia, terlalu kecil. Sedangkan kitab-Nya terlalu besar. Maka gagallah pandangan kita untuk melihat tepinya dan seluruh permukaannya. Maka Azza wa Jalla membuat salinan dari alam itu serta menjadikan kitab tersebut lebih kecil. Kitab pertama dinamakan-Nya alam "kabir" (besar) dan kitab kedua alam "saghir" (kecil). Segala yang ada di dalam kitab besar dicatat-Nya di dalam kitab kecil, dengan tidak ...

Mengenal diri agar Mengetahui Allah lewat Sastera dan Kesusasteraan (bag. 2)

Alam dan teks; tradisi menulis dan membaca kaum sufi. Aziz Nasafi yang hidup di abad XIII sampai awal abad XIV,  di dalam kitabnya "Zubdat al-Haqaiq, menyatakan: "ketahuilah olehmu, bahwa setelah mencipta yang ada, Tuhan Yang Maha Tinggi menamakannya sebagai alam, karena alam ialah alamat wujud-Nya. Di dalam wujud alam ada Ilmu, Irodah, dan Kodrat-Nya yang berupa alamat dan berupa naskah (teks-teks), maka ia adalah alamat, dinamakanlah sebagai alam. Dan oleh karena iapun adalah naskah, dinamakanlah kitab. Kemudian Allah berfirman: 'barang siapa yang akan membaca kitab ini akan mengenal Kami, serta Ilmu, Iradat, dan Kodrat Kami'. Kita Manusia, terlalu kecil. Sedangkan kitab-Nya terlalu besar. Maka gagallah pandangan kita untuk melihat tepinya dan seluruh permukaannya. Maka Azza wa Jalla yang melihat kelemahan kita, lalu membuat salinan dari alam itu serta menjadikan kitab tersebut lebih kecil. Kitab pertama dinamakan-Nya alam kabir (besar) dan kitab kedua alam saghir ...